Minggu, 29 Agustus 2010

Pain in Silence 2

'Aku akan menyatakan perasaanku hari ini. Bagaimana menurutmu ?'. Jantungku membeku. 'Dan kau harus menjadi saksi, kau harus ada di saat aku menyatakannnya'. Seperti monalisa yang tersenyum dalam bingkai. Tolong aku Tuhan, jangan biarkan air mata ini terjatuh. 'Jam 4 sore di bawah jam besar di pusat kota. Kau harus datang my best friend'. Dia melangkah pergi.

Oh, Tuhan dia terlihat bahagia. Aku senang melihatnya. Tapi, mengapa aku tidak ikut merasakannya. Mengapa pipiku menjadi hangat, mengapa air mata ini tak sanggup bertahan di mataku?

Aku terlalu sedih. Hujan pun seakan sama denganku. Aku tak tahu harus kemana. Aku tahu ada orang yang mengikutiku sedari tadi, tapi aku tak peduli. Langkah kakiku terus melewati genangan air ini, dan tanpa sadar aku berada tak jauh dari jam itu.

Dan disinalah aku, berdirh mematung melihat dua orang yang kukenal. Dan di sanalah mereka, di bawah hujan dekat jam besar. Aku melihatnya berlutut dengan menggenggam tangan cewek itu. Aku ingin pergi dari sini. Tapi kakiku seperti sudah tertancap begitu dalam ke tanah. Aku tak bisa bergerak.

Dia menunggu. Aku pun menunggu. Seakan pada saat itu dunia terdiam. Aku hanya bisa mendengar bunyi detak jantungku yang begitu kencang.

Tak lama kemudian mereka berpelukan. Dengan deras air mata ini terjatuh bercampur dengan hujan di pipiku. Ini terlalu menyakitkan. Aku membalikkan tubuh, dan ingin berlari. Tapi, di saat aku membalikkan tubuh, aku langsung berada dalam pelukan seseorang.

Orang itu ada di belakangku sedari tadi. Orang yang mengikutiku sampai ke sini. Ya, lelaki itu memelukku.

Seseorang yang kukenal dan mencintaiku diam2, seperti posisiku saat ini yang mencintai seseorang di bawah jam besar itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar