Ingin ku hentikan waktu.
Agar aku dapat terus bersamamu.
Ingin ku leburkan perbedaan yang membelunggu.
Agar kita dapat menyatu.
Berada di dekatmu adalah saat terindah dalam hidupku.
Tertawa bersamamu adalah pelipur laraku.
Aku tanpamu..
Aku tidak tahu..
Fiction Diary
Selasa, 14 September 2010
Pain in Silence 5
Di sebuah balkon aku melihat punggung dua sejoli yang terlihat...serasi. Dengan berlatarkan lembayungnya langit pada sore itu, Ingin rasanya ku berada di posisi wanita itu. Dalam pelukannya, tersenyum bahagia bersama kicauan burung yg indah. Namun apa daya, ku hanya bisa memandang..memandang...dengan hati yang sedih.
Aku mendekat...
Oh Tuhan...
Dia begitu pucat. Sakitku melihat pemandangan itu pun sirna, tergantikan oleh keadaan yg menyedihkan seperti ini.
Tangannya yang seputih susu menarik tanganku, mengajakku duduk di sampingnya. Dia memelukku..
"Maaf...maafkan aku..." dalam tangisnya dia terus meminta maaf padaku. "Tidak..kau tidak salah apapun.." air mataku pun jatuh. "Selama ini aku pura2 menutup mata ttg perasaanmu, aku selalu mengacuhkanmu demi kepentinganku sendiri..aku terlalu egois..aku sudah jahat padamu..aku terlalu menyakitimu.." dia terisak. Aku pun hanya mampu menangis.
Begitu lama kami menangis terdiam dengan saling merangkul. Tiba2 dia melepas pelukannya, memegang keningnya, dan hampir terjatuh. Lelaki itu pun langsung memegang bahunya,dan menyandarkan kepala cewek ini ke bahunya. "Kau kelelahan" perhatiannya begitu mengiris hatiku. Aku melihat air mata mengalir di pipinya. Dia begitu sedih melihat keadaan kekasihnya.
Tidak..aku tidak boleh egois.
"Aku baik2 saja" dia meyakinkan kamì dg senyum indahnya.
Tiba-tiba dia memegang tanganku dan tangannya. Tangan kami dipersatukan. Aku dan lelaki itu saling berpandangan. "Aku sudah menceritakan semuanya, tentang perasaanmu padanya". Mata kami pun kembali bertemu. Air mataku terus mengalir. "Dia pun juga mencintaimu, hanya dia tak pernah menyadarinya. Setiap saat dia terus berbicara tentangmu, perhatiannya pun lebih kepadamu. Aku sadar, aku tidak pernah memiliki hatinya". "Maaf...aku.." lelaki itu memotong. Tapi, wanita itu mengangkat tangannya, dg maksud untuk diam. "Kalian harus terus bersama. Kalian harus janji..". Kami berdua terdiam dan saling menatap. Aku pun terus menangis.
Dia menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki itu. Sementara kedua tangannya berada di atas tangan kami
"Aku sudah tenang, dan sekarang aku mengantuk.." perlahan matanya menutup, dia tertidur. "Tidurlah.." kata lelaki itu. Aku menggengam salah satu tangannya dengan tanganku yg lain. Dan aku pun makin terisak. Tiba2, Dengan tangan yang masih menggemgam tanganku, dia meletakkan tangannya yg lain ke belakang kursi. Dia menghapus air mataku..
Aku semakin terisak dan air mata ini sudah tak terkendalikan. Aku pun melihat air mata jatuh di matanya..
Dan tangan yg kupegang itu kini semakin dingin..
...The End...
Aku mendekat...
Oh Tuhan...
Dia begitu pucat. Sakitku melihat pemandangan itu pun sirna, tergantikan oleh keadaan yg menyedihkan seperti ini.
Tangannya yang seputih susu menarik tanganku, mengajakku duduk di sampingnya. Dia memelukku..
"Maaf...maafkan aku..." dalam tangisnya dia terus meminta maaf padaku. "Tidak..kau tidak salah apapun.." air mataku pun jatuh. "Selama ini aku pura2 menutup mata ttg perasaanmu, aku selalu mengacuhkanmu demi kepentinganku sendiri..aku terlalu egois..aku sudah jahat padamu..aku terlalu menyakitimu.." dia terisak. Aku pun hanya mampu menangis.
Begitu lama kami menangis terdiam dengan saling merangkul. Tiba2 dia melepas pelukannya, memegang keningnya, dan hampir terjatuh. Lelaki itu pun langsung memegang bahunya,dan menyandarkan kepala cewek ini ke bahunya. "Kau kelelahan" perhatiannya begitu mengiris hatiku. Aku melihat air mata mengalir di pipinya. Dia begitu sedih melihat keadaan kekasihnya.
Tidak..aku tidak boleh egois.
"Aku baik2 saja" dia meyakinkan kamì dg senyum indahnya.
Tiba-tiba dia memegang tanganku dan tangannya. Tangan kami dipersatukan. Aku dan lelaki itu saling berpandangan. "Aku sudah menceritakan semuanya, tentang perasaanmu padanya". Mata kami pun kembali bertemu. Air mataku terus mengalir. "Dia pun juga mencintaimu, hanya dia tak pernah menyadarinya. Setiap saat dia terus berbicara tentangmu, perhatiannya pun lebih kepadamu. Aku sadar, aku tidak pernah memiliki hatinya". "Maaf...aku.." lelaki itu memotong. Tapi, wanita itu mengangkat tangannya, dg maksud untuk diam. "Kalian harus terus bersama. Kalian harus janji..". Kami berdua terdiam dan saling menatap. Aku pun terus menangis.
Dia menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki itu. Sementara kedua tangannya berada di atas tangan kami
"Aku sudah tenang, dan sekarang aku mengantuk.." perlahan matanya menutup, dia tertidur. "Tidurlah.." kata lelaki itu. Aku menggengam salah satu tangannya dengan tanganku yg lain. Dan aku pun makin terisak. Tiba2, Dengan tangan yang masih menggemgam tanganku, dia meletakkan tangannya yg lain ke belakang kursi. Dia menghapus air mataku..
Aku semakin terisak dan air mata ini sudah tak terkendalikan. Aku pun melihat air mata jatuh di matanya..
Dan tangan yg kupegang itu kini semakin dingin..
...The End...
Minggu, 12 September 2010
Pain In silence 4
Apakah penyakit itu ?
Mengapa dia harus ada di dunia ini ?
Mengapa kau harus ada ?
Andai ku bisa..
Andai ku dapat memindahkannya ke diriku, kau tidak akan seperti ini..
Tuhan, mengapa bukan aku yang diberi rasa sakit itu?
Mengapa dia?
Sahabat yang ku sayang..
Mengapa dia harus ada di dunia ini ?
Mengapa kau harus ada ?
Andai ku bisa..
Andai ku dapat memindahkannya ke diriku, kau tidak akan seperti ini..
Tuhan, mengapa bukan aku yang diberi rasa sakit itu?
Mengapa dia?
Sahabat yang ku sayang..
Senin, 06 September 2010
Pain in Silence 3
Lelaki itu adalah teman dekat dia, orang yg ku cintai. Kami terkadang selalu bersama, aku, cintaku, sahabatku, dan dia. Kami berada dalam segi empat cinta yg tak terelakkan. Kami terjerat dalam perasaan masing-masing. Terus bersikap acuh pada perasaan yg sesungguhnya jika saling menatap, terus seperti itu tanpa pernyataan dan kejujuran pada perasaan masing-masing.
"kita berada dalam posisi yg sama, hanya aku lebih berani untuk menunjukkannya", katanya.
"maaf", hanya kata itu yg dapat aku ucapkan padanya.
"maaf tak berarti apa-apa". Aku terdiam. Dia menyunggingkan senyumnya. "tidak, aku sudah melupakannya. Perasaanku padamu. Harus. Tapi...aku akan tetap menyimpannya sampai aku bisa melupakannya".
Oh, Tuhan aku tahu apa perasaannya saat ini, sebagaimana perasaanku terhadap orang yang kucintai. Aku tahu dia berbohong.
"Lupakan jika itu menyakitkan, jangan lupakan jika tak bisa, karena itu bisa menyakitkan. Jaga dirimu".
"maafkan aku..maafkan aku..." aku terisak. Aku terisak akan kepergiannya.
Setelah hari itu, dimana aku melihat kenyataan yang menyakitkan. Di hari itu pula di mana dia menunjukkan perasaannya kepadaku. Dia menceritakan semuanya padaku.Pada waktu itu dia berkata, 'aku harus memberitahumu tentang perasaanku segera, karena aku akan pergi, kalau tidak aku tidak akan tenang. Aku hanya ingin kau tahu'.
Hari-hari pun berlalu. Selama itu dia terus menghiburku akan keterpurukan yang sedang memelukku. Tapi, hari ini dia telah pergi jauh ke negeri seberang.
Maafkan aku, aku tak bisa membalas perasaanmu. Sungguh aku dilema. Aku ingin kau tidak mengalami hal yang sama seperti yg ku alami, tapi aku pun tak bisa memaksakan perasaan ini untuk mencintaimu.
Sungguh maafkan aku...
"kita berada dalam posisi yg sama, hanya aku lebih berani untuk menunjukkannya", katanya.
"maaf", hanya kata itu yg dapat aku ucapkan padanya.
"maaf tak berarti apa-apa". Aku terdiam. Dia menyunggingkan senyumnya. "tidak, aku sudah melupakannya. Perasaanku padamu. Harus. Tapi...aku akan tetap menyimpannya sampai aku bisa melupakannya".
Oh, Tuhan aku tahu apa perasaannya saat ini, sebagaimana perasaanku terhadap orang yang kucintai. Aku tahu dia berbohong.
"Lupakan jika itu menyakitkan, jangan lupakan jika tak bisa, karena itu bisa menyakitkan. Jaga dirimu".
"maafkan aku..maafkan aku..." aku terisak. Aku terisak akan kepergiannya.
Setelah hari itu, dimana aku melihat kenyataan yang menyakitkan. Di hari itu pula di mana dia menunjukkan perasaannya kepadaku. Dia menceritakan semuanya padaku.Pada waktu itu dia berkata, 'aku harus memberitahumu tentang perasaanku segera, karena aku akan pergi, kalau tidak aku tidak akan tenang. Aku hanya ingin kau tahu'.
Hari-hari pun berlalu. Selama itu dia terus menghiburku akan keterpurukan yang sedang memelukku. Tapi, hari ini dia telah pergi jauh ke negeri seberang.
Maafkan aku, aku tak bisa membalas perasaanmu. Sungguh aku dilema. Aku ingin kau tidak mengalami hal yang sama seperti yg ku alami, tapi aku pun tak bisa memaksakan perasaan ini untuk mencintaimu.
Sungguh maafkan aku...
Kamis, 02 September 2010
Buber X.6 :D
Tanggal 2 September kemaren, teman-teman X.6 ngadain buber di rumah Sandy. Awalnya gue nggak dibolehin sama nyokap, karena waktu itu pulang malem dari buber XI IPA 1. Lagipula, gue lagi bokek juga hahahahhahah..... Terus ada anugerah dari sang maha kuasa, tiba-tiba gue dikasih duit sama mbah gue heheh alhamdulillah.
Masih masalah dengan ijinnnya nih. Gue teteuuuuuuuup nggak dibolehin. Terus si Indah Sagirang Gutawa (one of my bestie) nelpon nyokap gue, supaya ijinin gue. Dia ngerayu-rayu gitu deh (^^) haha. Dan akhirnya gue dibolehin deh..... thanks to you Indah.....muahmuah (wekkkkk).
Otw ke rumah Sandy with Melisadwis naik motor. Di jalan terjebak hujan besar sebesar biji salak, jadi batal puasa karena biji salaknya kemakan --". Untungnya gue bawa jas hujan superman hehe. Karena cuaca mendukung, gue jadi ketiduran deh. Ehhhhhhhh, si melis bawa motornya udah kayak orang ngejar gajian, ada polisi tidur tancep bee. Akhirnya pala gue kejedot helmnya mulu, dan sakit abis.
Pulangnya karena makanan masih banyak (terutama baso), jadi pada minta ijin sama sang empunya rumah buat dibawa pulang. Katanya boleh-boleh aja. Akhirnya pada ngebungkusin deh, ya basolah, es buah lah, ikan dorinya Raras lah (tapi kalo yang ini lelangan), sumpah udah kayak ibu-ibu arisan yang selesai arisan kerjaannya ngebungkusin wakakak. Ya udah, pas gue udah bungkusin 8 butir baso diplastik pertama, terus karena sepertinya kekurangan kuah jadi gue nuang kuah di plastik yang kedua. Eeeeehhhhhhhh tiba-tiba si Sandot bilang "kata nyokap gue basonya jangan dibawa, buat dibagii-bagiin ke tetangga" -___________________-"" Anak-anak yang lagi pada ngebungkusin sontak tertawa terjungkal-jungkal sampe guling-gulingan di lantai sampe lantainya kinclong terus badannya jadi berasap karena terkena gaya gesek (terutama ngetawain gue, karena bungkusannya ada dua, padahal yang satu lagi kuah doang tau..........). Sumpah demi apapun, gue yang udah masukin tuh baso, dan tinggal di bawa pulang ngakak abis. Ya udah akhirnya gue masukin lagi deh tuh baso ketempat asalnya. Eh, terus si Sandy bilang lagi "kata nyokap gue bawa aja basonya, tapi kuahnya jangan di abisin, duh cacat nih nyokap gue sorry ya" -_________-". Akhirnya gue masukin lagi tuh baso dengan plastik yang baru, tapi kali ini cuma satu plastik. WAKAKAKAKAKAKAK cacat abis sumpah....
Pokok'e the best lah waktu itu, serrrrrrruuuuu abis...
Love X.6 <3......
Masih masalah dengan ijinnnya nih. Gue teteuuuuuuuup nggak dibolehin. Terus si Indah Sagirang Gutawa (one of my bestie) nelpon nyokap gue, supaya ijinin gue. Dia ngerayu-rayu gitu deh (^^) haha. Dan akhirnya gue dibolehin deh..... thanks to you Indah.....muahmuah (wekkkkk).
Otw ke rumah Sandy with Melisadwis naik motor. Di jalan terjebak hujan besar sebesar biji salak, jadi batal puasa karena biji salaknya kemakan --". Untungnya gue bawa jas hujan superman hehe. Karena cuaca mendukung, gue jadi ketiduran deh. Ehhhhhhhh, si melis bawa motornya udah kayak orang ngejar gajian, ada polisi tidur tancep bee. Akhirnya pala gue kejedot helmnya mulu, dan sakit abis.
Pulangnya karena makanan masih banyak (terutama baso), jadi pada minta ijin sama sang empunya rumah buat dibawa pulang. Katanya boleh-boleh aja. Akhirnya pada ngebungkusin deh, ya basolah, es buah lah, ikan dorinya Raras lah (tapi kalo yang ini lelangan), sumpah udah kayak ibu-ibu arisan yang selesai arisan kerjaannya ngebungkusin wakakak. Ya udah, pas gue udah bungkusin 8 butir baso diplastik pertama, terus karena sepertinya kekurangan kuah jadi gue nuang kuah di plastik yang kedua. Eeeeehhhhhhhh tiba-tiba si Sandot bilang "kata nyokap gue basonya jangan dibawa, buat dibagii-bagiin ke tetangga" -___________________-"" Anak-anak yang lagi pada ngebungkusin sontak tertawa terjungkal-jungkal sampe guling-gulingan di lantai sampe lantainya kinclong terus badannya jadi berasap karena terkena gaya gesek (terutama ngetawain gue, karena bungkusannya ada dua, padahal yang satu lagi kuah doang tau..........). Sumpah demi apapun, gue yang udah masukin tuh baso, dan tinggal di bawa pulang ngakak abis. Ya udah akhirnya gue masukin lagi deh tuh baso ketempat asalnya. Eh, terus si Sandy bilang lagi "kata nyokap gue bawa aja basonya, tapi kuahnya jangan di abisin, duh cacat nih nyokap gue sorry ya" -_________-". Akhirnya gue masukin lagi tuh baso dengan plastik yang baru, tapi kali ini cuma satu plastik. WAKAKAKAKAKAKAK cacat abis sumpah....
Pokok'e the best lah waktu itu, serrrrrrruuuuu abis...
Love X.6 <3......
Minggu, 29 Agustus 2010
Pain in Silence 2
'Aku akan menyatakan perasaanku hari ini. Bagaimana menurutmu ?'. Jantungku membeku. 'Dan kau harus menjadi saksi, kau harus ada di saat aku menyatakannnya'. Seperti monalisa yang tersenyum dalam bingkai. Tolong aku Tuhan, jangan biarkan air mata ini terjatuh. 'Jam 4 sore di bawah jam besar di pusat kota. Kau harus datang my best friend'. Dia melangkah pergi.
Oh, Tuhan dia terlihat bahagia. Aku senang melihatnya. Tapi, mengapa aku tidak ikut merasakannya. Mengapa pipiku menjadi hangat, mengapa air mata ini tak sanggup bertahan di mataku?
Aku terlalu sedih. Hujan pun seakan sama denganku. Aku tak tahu harus kemana. Aku tahu ada orang yang mengikutiku sedari tadi, tapi aku tak peduli. Langkah kakiku terus melewati genangan air ini, dan tanpa sadar aku berada tak jauh dari jam itu.
Dan disinalah aku, berdirh mematung melihat dua orang yang kukenal. Dan di sanalah mereka, di bawah hujan dekat jam besar. Aku melihatnya berlutut dengan menggenggam tangan cewek itu. Aku ingin pergi dari sini. Tapi kakiku seperti sudah tertancap begitu dalam ke tanah. Aku tak bisa bergerak.
Dia menunggu. Aku pun menunggu. Seakan pada saat itu dunia terdiam. Aku hanya bisa mendengar bunyi detak jantungku yang begitu kencang.
Tak lama kemudian mereka berpelukan. Dengan deras air mata ini terjatuh bercampur dengan hujan di pipiku. Ini terlalu menyakitkan. Aku membalikkan tubuh, dan ingin berlari. Tapi, di saat aku membalikkan tubuh, aku langsung berada dalam pelukan seseorang.
Orang itu ada di belakangku sedari tadi. Orang yang mengikutiku sampai ke sini. Ya, lelaki itu memelukku.
Seseorang yang kukenal dan mencintaiku diam2, seperti posisiku saat ini yang mencintai seseorang di bawah jam besar itu.
Oh, Tuhan dia terlihat bahagia. Aku senang melihatnya. Tapi, mengapa aku tidak ikut merasakannya. Mengapa pipiku menjadi hangat, mengapa air mata ini tak sanggup bertahan di mataku?
Aku terlalu sedih. Hujan pun seakan sama denganku. Aku tak tahu harus kemana. Aku tahu ada orang yang mengikutiku sedari tadi, tapi aku tak peduli. Langkah kakiku terus melewati genangan air ini, dan tanpa sadar aku berada tak jauh dari jam itu.
Dan disinalah aku, berdirh mematung melihat dua orang yang kukenal. Dan di sanalah mereka, di bawah hujan dekat jam besar. Aku melihatnya berlutut dengan menggenggam tangan cewek itu. Aku ingin pergi dari sini. Tapi kakiku seperti sudah tertancap begitu dalam ke tanah. Aku tak bisa bergerak.
Dia menunggu. Aku pun menunggu. Seakan pada saat itu dunia terdiam. Aku hanya bisa mendengar bunyi detak jantungku yang begitu kencang.
Tak lama kemudian mereka berpelukan. Dengan deras air mata ini terjatuh bercampur dengan hujan di pipiku. Ini terlalu menyakitkan. Aku membalikkan tubuh, dan ingin berlari. Tapi, di saat aku membalikkan tubuh, aku langsung berada dalam pelukan seseorang.
Orang itu ada di belakangku sedari tadi. Orang yang mengikutiku sampai ke sini. Ya, lelaki itu memelukku.
Seseorang yang kukenal dan mencintaiku diam2, seperti posisiku saat ini yang mencintai seseorang di bawah jam besar itu.
Sabtu, 28 Agustus 2010
Hari ini ada acara buber keluarga besar dari nyokap gw. Tapi karena keadaan jalan yg tak terprediksi, mengakibatkan gue skeluarga buka di jalan deh..hmm..
Acaranya seru abis sumpah, susu tumpah (abaikan). Opa gue ngelawak mulu, apalagi dia daritadi nyanyi2 gak jelas, dan gayanya kocak abis, the lyric is : 'Boneka cantik dari India, bocahna letik digigit kecoa...' sambil niruin gaya khasnya parto di ovj, yg gerak maju mundur dg tangan kleper-kleper kayak org cacat. Udah gitu oma gue jg ikut-ikutan, WAKAKAKAK kocak sangodh.
Eh, pas plg gue ngeliat nama gedung bertuliskan 'anagara' , jadi teringat seseorang mmm... *abaikan saja nggak penting
Acaranya seru abis sumpah, susu tumpah (abaikan). Opa gue ngelawak mulu, apalagi dia daritadi nyanyi2 gak jelas, dan gayanya kocak abis, the lyric is : 'Boneka cantik dari India, bocahna letik digigit kecoa...' sambil niruin gaya khasnya parto di ovj, yg gerak maju mundur dg tangan kleper-kleper kayak org cacat. Udah gitu oma gue jg ikut-ikutan, WAKAKAKAK kocak sangodh.
Eh, pas plg gue ngeliat nama gedung bertuliskan 'anagara' , jadi teringat seseorang mmm... *abaikan saja nggak penting
Langganan:
Komentar (Atom)