Di sebuah balkon aku melihat punggung dua sejoli yang terlihat...serasi. Dengan berlatarkan lembayungnya langit pada sore itu, Ingin rasanya ku berada di posisi wanita itu. Dalam pelukannya, tersenyum bahagia bersama kicauan burung yg indah. Namun apa daya, ku hanya bisa memandang..memandang...dengan hati yang sedih.
Aku mendekat...
Oh Tuhan...
Dia begitu pucat. Sakitku melihat pemandangan itu pun sirna, tergantikan oleh keadaan yg menyedihkan seperti ini.
Tangannya yang seputih susu menarik tanganku, mengajakku duduk di sampingnya. Dia memelukku..
"Maaf...maafkan aku..." dalam tangisnya dia terus meminta maaf padaku. "Tidak..kau tidak salah apapun.." air mataku pun jatuh. "Selama ini aku pura2 menutup mata ttg perasaanmu, aku selalu mengacuhkanmu demi kepentinganku sendiri..aku terlalu egois..aku sudah jahat padamu..aku terlalu menyakitimu.." dia terisak. Aku pun hanya mampu menangis.
Begitu lama kami menangis terdiam dengan saling merangkul. Tiba2 dia melepas pelukannya, memegang keningnya, dan hampir terjatuh. Lelaki itu pun langsung memegang bahunya,dan menyandarkan kepala cewek ini ke bahunya. "Kau kelelahan" perhatiannya begitu mengiris hatiku. Aku melihat air mata mengalir di pipinya. Dia begitu sedih melihat keadaan kekasihnya.
Tidak..aku tidak boleh egois.
"Aku baik2 saja" dia meyakinkan kamì dg senyum indahnya.
Tiba-tiba dia memegang tanganku dan tangannya. Tangan kami dipersatukan. Aku dan lelaki itu saling berpandangan. "Aku sudah menceritakan semuanya, tentang perasaanmu padanya". Mata kami pun kembali bertemu. Air mataku terus mengalir. "Dia pun juga mencintaimu, hanya dia tak pernah menyadarinya. Setiap saat dia terus berbicara tentangmu, perhatiannya pun lebih kepadamu. Aku sadar, aku tidak pernah memiliki hatinya". "Maaf...aku.." lelaki itu memotong. Tapi, wanita itu mengangkat tangannya, dg maksud untuk diam. "Kalian harus terus bersama. Kalian harus janji..". Kami berdua terdiam dan saling menatap. Aku pun terus menangis.
Dia menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki itu. Sementara kedua tangannya berada di atas tangan kami
"Aku sudah tenang, dan sekarang aku mengantuk.." perlahan matanya menutup, dia tertidur. "Tidurlah.." kata lelaki itu. Aku menggengam salah satu tangannya dengan tanganku yg lain. Dan aku pun makin terisak. Tiba2, Dengan tangan yang masih menggemgam tanganku, dia meletakkan tangannya yg lain ke belakang kursi. Dia menghapus air mataku..
Aku semakin terisak dan air mata ini sudah tak terkendalikan. Aku pun melihat air mata jatuh di matanya..
Dan tangan yg kupegang itu kini semakin dingin..
...The End...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar