Lelaki itu adalah teman dekat dia, orang yg ku cintai. Kami terkadang selalu bersama, aku, cintaku, sahabatku, dan dia. Kami berada dalam segi empat cinta yg tak terelakkan. Kami terjerat dalam perasaan masing-masing. Terus bersikap acuh pada perasaan yg sesungguhnya jika saling menatap, terus seperti itu tanpa pernyataan dan kejujuran pada perasaan masing-masing.
"kita berada dalam posisi yg sama, hanya aku lebih berani untuk menunjukkannya", katanya.
"maaf", hanya kata itu yg dapat aku ucapkan padanya.
"maaf tak berarti apa-apa". Aku terdiam. Dia menyunggingkan senyumnya. "tidak, aku sudah melupakannya. Perasaanku padamu. Harus. Tapi...aku akan tetap menyimpannya sampai aku bisa melupakannya".
Oh, Tuhan aku tahu apa perasaannya saat ini, sebagaimana perasaanku terhadap orang yang kucintai. Aku tahu dia berbohong.
"Lupakan jika itu menyakitkan, jangan lupakan jika tak bisa, karena itu bisa menyakitkan. Jaga dirimu".
"maafkan aku..maafkan aku..." aku terisak. Aku terisak akan kepergiannya.
Setelah hari itu, dimana aku melihat kenyataan yang menyakitkan. Di hari itu pula di mana dia menunjukkan perasaannya kepadaku. Dia menceritakan semuanya padaku.Pada waktu itu dia berkata, 'aku harus memberitahumu tentang perasaanku segera, karena aku akan pergi, kalau tidak aku tidak akan tenang. Aku hanya ingin kau tahu'.
Hari-hari pun berlalu. Selama itu dia terus menghiburku akan keterpurukan yang sedang memelukku. Tapi, hari ini dia telah pergi jauh ke negeri seberang.
Maafkan aku, aku tak bisa membalas perasaanmu. Sungguh aku dilema. Aku ingin kau tidak mengalami hal yang sama seperti yg ku alami, tapi aku pun tak bisa memaksakan perasaan ini untuk mencintaimu.
Sungguh maafkan aku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar